Langsung ke konten utama

Apel Tujuh Belas: Momen yang Mempersatukan


Peringati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUTRI) ke-72, Panitia HUTRI Desa Nusadani menggelar apel bendera bersama di pelataran balai desa Nusadani, pada Kamis, (17/8) lalu. Pemdes Nusadani, segenap lembaga dalam desa, warga desa, lembaga pendidikan (PAUD-SMA), Balai Pertanian dan Puskeswan Nusadani serta komunitas Biara Susteran Stela Maris, turut ambil bagian dalam apel ini.

Kepala Desa Nusadani, Markus Mulai Keray, lewat amanat Pembina Upacara, menyampaikan apresiasi kepada lembaga pendidikan dalam desa karena telah bekerja sama dalam usaha mencerdaskan generasi muda. Markus menambahkan, sarana pendukung di desa seperti Rumah Pintar dan perpustakaan desa sedang dipersiapkan. Selain itu, program kesehatan seperti rutinitas bulanan Posyandu dan Posbindu dan pelayanan Poskesdes, serta sarana olahraga seperti lapangan bola kaki dan bola voli, turut menunjang aspek kesehatan dan pengembangan bakat olahraga anak-anak muda.


Apel HUTRI kali ini dipimpin langsung Kepala Desa Nusadani, dan turut dimeriahkan oleh parade drum band dari SMAN 1 Solor Barat. Selain itu, selepas apel, dilanjutkan acara Tos Kenegaraan yang diselingi dengan pembacaan puisi, lomba mewarnai siswa PAUD-Tk, pengumuman hasil perlombaan dan pertandingan, dan penyerahan beasiswa dari Pemdes kepada siswa SD dan SMP yang berprestasi. Lukisan, puisi dan cerita pendek yang menjadi juara turut dipajang di majalah dinding untuk dapat dibaca dan dinikmati oleh warga.

Kepala Desa Nusadani, Markus Mulai Keray, mengajak segenap pemangku kepentingan mengenang para pahlawan negara dan lewotana dalam acara Tos Kenegaraan, Kamis (17/8) lalu.


Pahlawan di Sekitar Kita

Menyongsong HUTRI tahun ini, diadakan juga aneka pertandingan dan perlombaan. Siswa SD hingga SMA antusias terlibat dalam lomba melukis, menulis puisi, dan cerita pendek. Siswa PAUD-Tk juga tak kalah meramaikan lomba mewarnai. Antar-warga, diakan lomba gerak jalan dan pertandingan bola voli.

Lomba melukis, menulis puisi dan cerita pendek dibatasi pada tema ‘Pahlawan di Sekitar Kita’. Yang menarik, Agus Sogen, siswa SDI Nusadani, yang turut memenangi lomba lukis, menerjemahkan tema tersebut dengan sangat sederhana. Di kertas gambarnya, gerakan alur pensilnya tak membentuk wajah pahlawan nasional seperti dalam buku-buku sejarah, tetapi pahlawan yang paling dekat denganya, yakni neneknya. Sedang pemenang lain, Yolan Kein, melukis wajah mendiang Martinus Nebon Keray, sosok yang sangat berjasa bagi pendidikan di desa Nusadani. Apel tujuh belas kali ini seakan jadi momen mempersatukan pahlawan yang kadang luput dari ingatan, yakni orang-orang kecil dan juga yang telah berpulang.

Karena itu, tak heran jika pada acara Tos Kenegaraan, Kepala Desa Nusadani menghimpun segenap elemen masyarakat, pendidik, tokoh perempuan, perantau, pelajar, tokoh pemuda, rohaniwan, untuk bersama bergandengan tangan mengenang jasa para pahlawan, khusus pahlawan dalam lewotana. (AK-WN)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Putri: Potret Anak Muda Nusadani yang Berprestasi

A nak-anak muda Nusadani tak pernah berhenti menorehkan prestasi. Setelah menjadi kampiun beberapa waktu lalu dalam turnamen bola kaki Piala Paroki Pamakayo 2017, kabar gembira juga datang dari tim voli putri Nusadani. Meski tak berhasil menjuarai turnamen voli menyongsong HUTRI ke-72 tingkat Kecamatan Solor Barat, tiga pemain andalan Nusadani tetap berhasil masuk ke dalam tim inti kecamatan yang berlaga pada turnamen Wakil Bupati Cup 2017 di Larantuka. Salah satu dari ketiga pemain terpilih itu adalah Putri. Pelajar SMPN Satap Nusadani ini menjadi pemain termuda dalam tim. Usia yang begitu muda tentu menunjukkan perjuangannya yang luar biasa dalam mengenal olahraga voli. Putri (Nomor 12) saat pose bersama tim voli putri Kecamatan Solor Barat di Hotel Fortuna sebelum bertanding dalam turnamen Wakil Bupati Cup beberapa waktu lalu . Bernama lengkap Paskahlina Syaputri Lilly Sogen, Putri lahir di Makasar, 21 April 2003. Masa sekolah dasarnya dihabiskan di Arasoe...

Puisi-puisi Fransiska Keray

Teriakan Dari Kota —Puisi Fransiska Keray Ini desaku Tanah kelahiranku Tempatku dilahirkan dalam ayunan mimpi Padi meninggi Air di sumur Buah-buah dari kebun jauh Di sini hidup tanpa keributan Bagai istana surga Tak seperti di kota Terdengar koruptor Ada gila kekuasaan Rakyat mereka penuh keluh Kami lapar – haus Dan ingin pulang ke desa (Nusadani, 2017) Indah Pemandangan —Puisi Fransiska Keray Terlihat dari bukit itu Tersorot desa kecil Tempat luka hati disembuhkan Petak kebun membentang Padi selesai ditanam Pucuk mekar buka musim hujan Air mengalir di kedalaman Petani mengadu nasib Memelihara hidup Menemukan damai Dari lahir sampai akhir (Nusadani, 2017)   *Fransiska Keray, staf Pemdes Nusadani