Taktik Menghadapi Final
Banyak
hal yang bisa dikaitkan dengan pertandingan pamungkas turnamen sepak bola Piala
Paroki Pamakayo III, Jumat (14/7). Durasi 2x45 menit kali ini merupakan final
kedua bagi MBHK FC (Nusadani) dan final pertama bagi Balada FC (Rianglaka) sejak
mengikuti turnamen Piala Paroki Pamakayo yang digelar pertama kali pada tahun
2015. Final kali ini juga kembali mempertemukan kedua tim, tentu saja dengan
temperatur yang semakin tinggi, setelah sebelumnya ketajaman lini tengah dan
ketangkasan lini depan Balada berhasil diredam dengan skor 2-0 di fase akhir penyisihan
Grup A yang menghantar MBHK menjadi penguasa grup.
Balada
memiliki tim yang sempurna. Segenap lini, terutama tengah dan depan sangat
mematikan, dan telah menyumbangkan 8 gol selama fase grup. Balada menumbangkan
Kobra FC (Sulengwaseng) 4 gol tanpa balas, sedangkan Daniwato FC dengan skor
4-1. Di partai semifinal, Balada semakin ditakuti setelah berhasil menyingkirkan
juara bertahan 2016, Oleng FC (Ongalereng) melalui drama adu penalti.
Di
sisi lain, bagi MBHK, turnamen tahun ini merupakan laga yang sangat penting.
Menjadi tuan rumah turnamen, tak cukup hanya menjadi finalis, sebab tak ada
tuan rumah yang ingin kalah di tanah sendiri. Apalagi dari segi peringkat, MBHK
memiliki grafik yang bagus. Menduduki peringkat ke-4 pada 2015, dan langsung
melejit naik ke posisi ke-2 pada 2016. Karena itu, target mengangkat piala
juara adalah harga mati.
Daftar
starting eleven langsung membedakan
kedua tim. Balada seakan mengancam, tanpa basa basi langsung menurunkan pemain-pemain
utama, sedangkan MBHK meninggikan segi taktik. Adven, yang tak tentu nasibnya
sejak awal turnamen dan tak pernah dimainkan, tiba-tiba dipanggil menjadi
penyerang utama MBHK. Sebuah keputusan yang tidak disangka-sangka dan
menimbulkan tanda tanya dalam kepala para supporter.
Beberapa menit pertama setelah peluit kick
off dibunyikan, Adven tak memberikan kontribusi berarti, seakan sekadar
melengkapi jumlah pemain. Beberapa pendukung MBHK bahkan berulang kali memperlihatkan
wajah kecewa dari area penonton.
Adven, Si Jangkung
Bintang Baru
Sehari sebelum laga final, Adven mendapat kepercayaan itu. Tugasnya terbilang
sederhana, menyita perhatian pemain belakang Balada agar second striker MBHK, Ardy Sogen, dapat mencuri peluang menusuk
masuk ke jantung pertahanan lawan tanpa pengawasan ketat. Ardy, meski berpostur
kecil, kemahiran mengolah bola, kecepatan geraknya, serta pengalaman bermainnya, selalu menjadi
momok menakutkan bagi pertahanan tim-tim lawan. Tak heran jika ia selalu
diawasi dengan perhatian berlipat. Maka dipilihlah Adven, mengemban misi yang sangat penting itu.
Akan
tetapi, siapa pun tak pernah menduga, si jangkung itu berhasil menyumbang
lebih. Tak hanya benteng Balada, Adven malah mampu menyedot perhatian segenap
penonton yang memadati lapangan. Setelah beberapa usaha yang gagal, akhirnya ia
berhasil mencatatkan namanya di papan skor. Jala gawang Balada tiba-tiba bergetar
setelah kaki kanannya menyambar sebuah bola liar di depan kotak terlarang
Balada. Skor berubah, 1-0, sekaligus mengubah arah perhatian benteng Balada.
Adven
seketika menjadi bintang lapangan, selalu dikawal ketat beberapa pemain Balada.
Akan tetapi, pengawalan itu tetaplah sia-sia. Beberapa menit berselang,
tandukan Adven kembali membawa korban. Kiper Balada yang terlanjur maju meninggalkan
gawang, pasrah menyaksikan bola melambung melewati dirinya dan perlahan masuk
ke dalam gawang. Skor kembali berubah, 2-0.
Tak
ingin semakin jauh tertinggal, Balada meninggikan tempo permainan.
Serangan-serangan cepat dilancarkan. Setelah beberapa kali kandas, akhirnya
satu gol balasan tercipta dari tendangan sudut. Dari kaki Oby, bola bergerak melengkung
dan langsung merobek jala gawang Fandy Keray. Skor kembali berubah, 2-1.
Seketika temperatur pertandingan meningkat. Balada tampak lebih mendominasi
serangan. Berusaha menyamakan kedudukan, Balada malah kembali kebobolan. Menerima assist mendatar Rian dari sisi kiri,
Edwin kembali membuat pendukung MBHK bersorak. Skor 3-1 bertahan hingga turun
minum.
Babak Kedua dan Dua Gol
Balasan
Memasuki
paruh waktu kedua, MBHK lebih bermain lambat, sedangkan Balada malah
sebaliknya. Faktor keunggulan skor membuat MBHK terlihat santai, seakan ingin
mengulur waktu dan memperlambat permainan. Balada terus-menerus berusaha
menekan. Perbedaan visi permainan ini menyebabkan MBHK lengah dan berakhir
dengan menelan pil pahit. Gol balasan Balada kembali tercipta. Kali ini melalui
gol bunuh diri benteng BMHK yang keliru mengubah arah bola. Bermaksud menghalau
bola dari gawang, tandukan Sisko malah membentur tiang dalam dan langsung bersarang
di gawang. Skor berubah 3-2.
Balada
semakin menunjukkan tajinya. Belum sempat melakukan serangan balasan, MBHK
malah kembali kebobolan. Kali ini melalui pemain depan Balada, Risno. Pemain
bernomor punggung 9 itu berhasil meneruskan umpan lambung dengan sebuah
tendangan yang sempurna. Bola hasil tembakan kerasnya membentur mistar gawang MBHK,
sesaat sebelum terdengar sorak gempita pendukung Balada. Kedudukan sama, 3-3.
Ardy Sogen: Tiga Menit,
Dua Gol
Pertandingan
selanjutnya baru terlihat seperti laga final sesungguhnya. Masing-masing tim
melancarkan serangan bergantian. Tak ada lagi permainan lambat. Semuanya
bergerak cepat. Masing-masing pengatur serangan tak menyia-nyiakan setiap
peluang yang bisa menjadi umpan matang untuk pemain depan.
Adalah
Jery, pemain tengah MBHK, yang umpan matangnya lebih dahulu membuahkan hasil. Dari
lapangan tengah, umpan panjangnya disambut Ardy dengan penguasaan bola yang
matang. Mengoceh dua bek tengah Balada, striker
lincah MBHK itu berhasil berhadap-hadapan dengan penjaga gawang sebelum melepas
tembakan pengubah kedudukan.
Skor
4-3 ternyata tak bertahan lama. Tiga menit berselang, gol kembali tercipta.
Kali ini tak ada lagi gol balasan. Tak ada lagi waktu penuh emosional bagi
segenap pendukung fanatik Balada untuk merayakan gol. Dua gol dalam rentang
waktu tiga menit itu adalah milik MBHK. Menerima assist pendek dari Rian, Ardi menahan bola dan menunggu sesaat. Pemain
bernomor punggung 17 itu menunggu kiper Balada bergerak maju, sebelum melepas sebuah
sepakan pelan melewati ruang kosong menuju sisi kanan gawang. Gol kelima tercipta
dan sekaligus menjadi gol kemenangan yang mengakhiri masa penantian tim MBHK
untuk mencatat sejarah juara.
| Kapten MBHK Menerima Trofi Juara dari Pastor Paroki Pamakayo. |
Piala Paroki Pamakayo: Usaha
Mengembangkan Potensi Kaum Muda
Piala
Paroki Pamakayo merupakan turnamen sepak bola tahunan antar-stasi separoki
Pamakayo, Solor. Fokus perhatian dalam turnamen ini adalah pengembangan bakat
Orang Muda Katolik (OMK), khususnya dalam bidang olahraga sepak bola. Mengingat
sepak bola lebih populer dan lebih melibatkan banyak orang, maka dipilihlah
jenis olahraga tersebut sebagai usaha Gereja, terkhususnya Paroki Pamakayo
dalam mengembangkan potensi kaum muda. Hal tersebut disampaikan Arnol Moron
dalam laporan Panitia Piala Paroki Pamakayo III pada seremonial penutupan
turnamen, Jumat (14/7) sore selepas laga final MBHK Nusadani melawan Balada
Rianglaka.
Menitikberatkan
pada kaum muda, kata Arnol dalam kesempatan lain, turnamen tahun ini memiliki
batasan keterlibatan peserta yang lebih jelas dari tahun-tahun sebelumnya. Pihak
Panitia, khususnya Seksi Pertandingan, menggagas aturan-aturan baru, termasuk
tentang pemain. Jika sebelumnya tanpa batasan yang ketat, tahun ini setiap tim
wajib membawa 22 pemain, dengan rincian, 13 pemain adalah orang muda yang belum
menikah dan 9 pemain lainnya sudah menikah. Untuk lebih berbenah dan mengena pada kaum muda, lanjut Arnol, Panitia berencana akan mengkhususkan turnamen hanya
bagi kaum muda dengan batas usia tertentu untuk turnamen
tahun-tahun mendatang.
Ketua
Dewan Pastoral Paroki Pamakayo, Klemens Reda Hayon, dalam sambutannya pada
seremonial pembuka, Senin (3/7), menekankan tentang besarnya potensi dalam diri
setiap kaum muda. Menurutnya, jika tidak dikawal, potensi tersebut akan
berujung pada timbulnya perbuatan-perbuatan negatif. Oleh karena itu,
lanjutnya, pihak Paroki Pamakayo, melalui Seksi Kepemudaan Paroki, menggelar
turnamen sepak bola Piala Paroki Pamakayo, sebagai wadah untuk mengembangkan
potensi kaum muda.
Tahun
ini merupakan tahun ketiga turnamen sepak bola Piala Paroki Pamakayo digelar yang
dijuarai stasi Maria Bunda Hati Kudus (MBHK) Nusadani. Sebelumnya,
masing-masing turnamen Piala Paroki dijuarai Oleng FC (Ongalereng) pada tahun
2016 dan Daniwato FC pada tahun 2015. Turnamen ini diikuti 8 stasi yang dibagi
dalam dua grup. Grup A terdiri atas Kobra FC (Sulengwaseng), MBHK FC (Nusadani),
Daniwato FC, dan Balada FC (Rianglaka), sedangkan grup B dihuni Penilering FC,
Palma FC (Pamakayo), Oleng FC (Ongalereng), dan Karawatung FC.
(YK)
Komentar
Posting Komentar