Langsung ke konten utama

Percakapan Dengan Ayah

 Cerpen Natalia Lutgardis Noa Sogen*

  
Langit senja kali ini tidak terlalu indah. Mendung menguasai langit kuning itu. Aku duduk di sebuah kursi kayu yang kian rapuh terbawa waktu. Sesekali aku memandangi laut dengan gulungan ombaknya. Senja kali ini begitu sepi, seakan ombak tak terlalu menguasai laut, riuh-ria suara pun hampir saja tidak terdengar—senja yang begitu menenangkan.

Raut wajahku berseri memandang sosok renta yang begitu lincah mengayuh sampan tua. Tak butuh waktu lama, sang pengarung laut itu sampai di tepi pantai. Ia terlihat begitu letih. Kedua tangannya mengusap pelan dahinya yang penuh keringat. Dialah pahlawanku, pahlawan hidupku.

Aku berlari mendapatinya sambil menenteng sebuah ember kecil yang sedari tadi menunggu untuk diisi.

“Ayah, bagaimana hasilnya?” Teriakku sumringah.
“Lumayan, Nak,” jawab Ayah pelan. “Mari embernya, Ayah isi ikan-ikannya.”
“Tidak apa-apa, Ayah, biar aku saja. Ayah lebih baik istirahat.” Balasku.

Tanpa basa-basi, aku segera mengisi ember dengan ikan-ikan. Tanganku bergerak pelan. Aku harus hati-hati. Jika tidak, tanganku bisa kesakitan tertusuk tajam sirip ikan.

Ayah menatapku. Wajahnya menyimpan sesuatu yang ingin ia sampaikan.

Ilustrasi


“Tia, Ayah rasa sudah saatnya kamu melanjutkan sekolah.” 

Perkataan itu sontak membuat dadaku terasa sesak, jantungku berdegup kencang, raut wajahku berubah.

“Ayah, aku tidak butuh semua itu. Kalaupun aku butuh, itu kebutuhan yang tidak harus dipenuhi. Biaya kuliah mahal, darimana kita bisa mendapatkan biaya sebanyak itu? Aku tidak apa-apa jika harus bekerja seperti ini, aku ikhlas membantu Ayah.”

Mulutku seakan tak ingin berhenti berbicara. Nada suaraku mulai meninggi.

“Aku tidak mau jika Ayah harus bekerja keras dengan usia Ayah sekarang. Aku tidak tega melihat Ayah seperti itu. Aku tak ingin Ayah sakit-sakitan. Hanya Ayah orang yang aku miliki di dunia ini. Aku sangat sayang Ayah.”

Derai air mataku tak dapat kubendung. Ayah menepuk-nepuk pelan pundakku.

“Nak, kebetulan Ayah mendapat sedikit rezeki. Kamu anak yang cerdas, Tia. Lagi pula, almarhuma Ibumu mengimpikan kamu menjadi orang yang berguna bagi banyak orang. Kamu akan jadi orang yang besar dan terhormat nantinya.”

Tetesan bening penuh haru pun berlomba untuk jatuh. Rasa sakit yang kian perih menusuk jiwaku.

“Tapi bagaimana dengan Ayah? Siapa yang akan membantu Ayah jika aku tak ada?”

Isak tangis terdengar, sedang senja mulai pergi, dan malam perlahan datang lagi. Ayah berdiri di hadapanku. Ia menengadah ke langit menatap bintang-bintang yang mulai bermunculan, lalu tersenyum padaku. Senyum tulus yang tak aku dapatkan dari orang lain.

“Nak, kamu seperti bintang, tetap berkilau walau kadang tak terlihat. Kamu adalah bintang di hati Ayah.”

Suara Ayah terdengar bergetar.

“Kamu adalah segalanya, Tia. Ayah mohon kamu bisa melanjutkan kuliah.”

Aku memeluk erat laki-laki renta itu. Air mataku membasahi pundaknya.

“Tapi kamu harus janji, Tia. Jika kamu pulang nanti, kamu bawah cerita indah untuk Ayah, cerita tentang kamu yang telah jadi orang sukses, orang yang berguna, menjadi bintang di hati Ayah.”

“Ayah,” suaraku pun ikut bergetar, “aku janji akan membawa cerita yang paling indah untuk Ayah, cerita yang selalu Ayah nantikan, menjadi bintang yang tak akan pernah redup sedikit pun."

Tanganku semakin erat merangkul tubuh renta itu.

“Terima kasih untuk semuanya, Ayah. Untuk segala rasa yang tak pernah biasa, menjadi sosok Ayah sekaligus Ibu dalam kehidupanku. Tak semua Ayah bisa melakukan itu."


*Natalia Lutgardis Noa Sogen,
Berasal dari Nusadani. Kini tercatat sebagai siswi SMA Negeri 1 Solor Barat, Flores Timur.









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Putri: Potret Anak Muda Nusadani yang Berprestasi

A nak-anak muda Nusadani tak pernah berhenti menorehkan prestasi. Setelah menjadi kampiun beberapa waktu lalu dalam turnamen bola kaki Piala Paroki Pamakayo 2017, kabar gembira juga datang dari tim voli putri Nusadani. Meski tak berhasil menjuarai turnamen voli menyongsong HUTRI ke-72 tingkat Kecamatan Solor Barat, tiga pemain andalan Nusadani tetap berhasil masuk ke dalam tim inti kecamatan yang berlaga pada turnamen Wakil Bupati Cup 2017 di Larantuka. Salah satu dari ketiga pemain terpilih itu adalah Putri. Pelajar SMPN Satap Nusadani ini menjadi pemain termuda dalam tim. Usia yang begitu muda tentu menunjukkan perjuangannya yang luar biasa dalam mengenal olahraga voli. Putri (Nomor 12) saat pose bersama tim voli putri Kecamatan Solor Barat di Hotel Fortuna sebelum bertanding dalam turnamen Wakil Bupati Cup beberapa waktu lalu . Bernama lengkap Paskahlina Syaputri Lilly Sogen, Putri lahir di Makasar, 21 April 2003. Masa sekolah dasarnya dihabiskan di Arasoe...

Puisi-puisi Fransiska Keray

Teriakan Dari Kota —Puisi Fransiska Keray Ini desaku Tanah kelahiranku Tempatku dilahirkan dalam ayunan mimpi Padi meninggi Air di sumur Buah-buah dari kebun jauh Di sini hidup tanpa keributan Bagai istana surga Tak seperti di kota Terdengar koruptor Ada gila kekuasaan Rakyat mereka penuh keluh Kami lapar – haus Dan ingin pulang ke desa (Nusadani, 2017) Indah Pemandangan —Puisi Fransiska Keray Terlihat dari bukit itu Tersorot desa kecil Tempat luka hati disembuhkan Petak kebun membentang Padi selesai ditanam Pucuk mekar buka musim hujan Air mengalir di kedalaman Petani mengadu nasib Memelihara hidup Menemukan damai Dari lahir sampai akhir (Nusadani, 2017)   *Fransiska Keray, staf Pemdes Nusadani

Apel Tujuh Belas: Momen yang Mempersatukan

P eringati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUTRI) ke-72, Panitia HUTRI Desa Nusadani menggelar apel bendera bersama di pelataran balai desa Nusadani, pada Kamis, (17/8) lalu. Pemdes Nusadani, segenap lembaga dalam desa, warga desa, lembaga pendidikan (PAUD-SMA), Balai Pertanian dan Puskeswan Nusadani serta komunitas Biara Susteran Stela Maris , turut ambil bagian dalam apel ini. Kepala Desa Nusadani, Markus Mulai Keray, lewat amanat Pembina Upacara, menyampaikan apresiasi kepada lembaga pendidikan dalam desa karena telah bekerja sama dalam usaha mencerdaskan generasi muda. Markus menambahkan, sarana pendukung di desa seperti Rumah Pintar dan perpustakaan desa sedang dipersiapkan. Selain itu, program kesehatan seperti rutinitas bulanan Posyandu dan Posbindu dan pelayanan Poskesdes, serta sarana olahraga seperti lapangan bola kaki dan bola voli, turut menunjang aspek kesehatan dan pengembangan bakat olahraga anak-anak muda. A pel HUTRI kali ini dipimpin langsun...