Sekolah Tinggi
Pastoral (STP) Reinha Larantuka menggelar seminar di Desa Nusadani, Kecamatan
Solor Barat, pada Selasa, (19/12/2017) lalu. Seminar yang mengusung tema
“Berpastoral Berbasis Ekologis” tersebut dibuka oleh Wakil Bupati Flores Timur,
Agustinus Payong Boli.
Dalam seremonial
pembukaan, Kepala STP Reinha Larantuka, Sr. Benedikta Kebingin, CIJ, dalam
sambutannya, menegaskan bahwa seminar dan kunjungan STP ke Desa Nusadani selama
tiga hari tersebut merupakan aksi nyata mereka dalam memaknai tahun 2017
sebagai tahun ekologi. “Meski tahun ekologi akan berakhir, tanggung jawab kita
terhadap alam harus terus berlanjut,” pesan Sr. Benedikta.
Di samping itu,
dalam sambutannya, Kepala Desa Nusadani, Markus Mulai Keray, sangat berbangga
karena STP memilih Desa Nusadani sebagai tempat untuk berdinamika bersama warga
dan anak-anak muda. Markus berharap STP kembali melaksanakan kegiatan serupa di
Desa Nusadani pada tahun-tahun mendatang.
Pada acara seminar,
dihadirkan tiga pembicara, yakni Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Flores
Timur, Petrus Pedo Maran; Kepala Kantor Yayasan Misool Baseftin – Flores Timur,
Maria Yosefina Leto Ojan; dan Dosen STP Reinha Larantuka, Krisantus Minggu
Kwen.
![]() |
| Wakil Bupati Flores Timur, Agustinus Payong Boli, saat membuka seminar ekologi di Nusadani, pada Selasa (19/12/2017) lalu. Foto: Emanuel Kein. |
Bermitra
Melestarikan Alam
Dimoderatori oleh
Petrus Ike Keraf, seminar dimulai dengan pemaparan dari Petrus Pedo Maran,
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Flores Timur. Petrus berbicara tentang pentingnya
kemitraan dalam usaha perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Terkait
Solor, Petrus memaparkan beberapa masalah, seperti kekeringan, rawan pangan,
menurunnya debit air, ilegal fishing, tingginya lahan kritis, dan
penambangan pasir di kawasan pantai. Terhadap masalah-masalah tersebut, pihak
pemerintah telah melakukan usaha, seperti konservasi sumber daya air di Desa
Tanalein, Solor Barat. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan anakan jati untuk
para kelompok tani di Flores Timur.
Perihal program
kerja Desa Nusadani tahun 2018, Petrus sangat mendukung usaha desa untuk
mengadakan 1000 anakan sengon laut. Akan tetapi menurut Petrus, khusus daerah
mata air, sebaiknya ditanami jenis pohon yang mampu memunculkan mata air baru,
seperti beringin, bambu, atau pinang. Menurut Petrus, empat pohon beringin saja
sudah mampu membentuk satu mata air baru. Sedangkan jenis pohon seperti
sengon laut, Petrus menyarankan untuk ditanami di lahan-lahan kritis.
Lebih lanjut, Petrus
sangat berharap adanya kemitraan dari masyarakat, lembaga swasta, dan lembaga
pendidikan dengan pemerintah dalam menjaga keutuhan dan kelestarian lingkungan
hidup. Alam sangat luas, dari darat, laut, sampai udara, dan tak mampu dijaga
dan dilestarikan hanya oleh satu pihak saja, pungkas Petrus.
![]() |
| Peserta seminar yang terdiri atas mahasiswa STP Reinha Larantuka, tokoh masyarakat dan orang muda Desa Nusadani menyimak sambutan Wakil Bupati Flores Timur, Agustinus Payong Boli. Foto: Emanuel Kein. |
Belajar
dari Raja Ampat
Pembicara kedua
adalah Maria Yosefina Leto Ojan dari Kantor Yayasan Misool Baseftin – Flores
Timur. Maria menjelaskan, Yayasan Misool Baseftin berkantor pusat di Raja
Ampat, Papua Barat. Nama Misool diambil dari nama satu pulau besar di Kepulauan
Raja Ampat. Yayasan Misool Baseftin bertugas bersama masyarakat setempat untuk
melestarikan dan menjaga ekosistem laut agar tidak dirusak. Di Flores Timur,
Misool Baseftin membuka cabang yang berkantor di Sarotari, Larantuka.
Menurut Maria, Raja
Ampat menjadi contoh nyata bagaimana usaha menjaga kekayaan laut berbuah manis
menjadi destinasi wisata yang luar biasa. Pemeliharaan eksistem laut, terumbu
karang, dan megafauna untuk keperluan wisata tersebut menjadi penopang ekonomi warga
setempat.
Maria juga berharap
Flores Timur dapat mencontohi kerja Raja Ampat. Flores Timur juga memiliki
ekosistem laut yang indah, mulai dari ekosistem hutan bakau, padang lamun, dan
terumbu karang. Di samping itu, berdasarkan penelitian, perairan Flores Timur
juga memiliki megafauna yang tak kalah menarik, seperti 6 jenis paus, 8 jenis
lumba-lumba, 6 jenis pari, 6 dari 7 jenis penyu di Indonesia, dan 2 jenis ikan
matahari (sunfish).
Karena itu, Maria
berharap warga menghindari kegiatan-kegiatan yang merusak ekosistem laut. Maria
menyayangkan aksi penangkapan ikan dengan bahan peledak, potasium, atau
akar-akaran, apalagi sampai mengorbankan biota laut yang terancam punah dan
dilindungi. Selain itu, aktivitas berkarang dan membuang sampah ke luat juga
menjadi penyebab kerusakan laut yang sering tak disadari.
Lanjut Maria, sebagai
yayasan yang berfokus pada pelestarian alam, Misool Baseftin telah bekerja sama
dengan Pemerintah Flores Timur. Hal itu didukung dengan visi Bupati Anton Gege
Hadjon yang juga secara khusus menaruh perhatian terhadap pelestarian laut.
Selain itu, bersama warga, Misool Baseftin juga bekerja sama di bidang
pariwisata, pengalihan ilegal fishing
ke perikanan yang berkelanjutan (rumpon), kampanye dan edukasi, penyelamatan
penyu di Ritaebang, Solor Barat, dan restorasi karang di Desa Birawan.
![]() |
| Wakil Bupati Flores Timur, Agustinus Payong Boli memberikan tabungan pendidikan kepada enam siswa SDI Nusadani. Foto: Emanuel Kein. |
Gereja
Adalah Kita
Pembicara ketiga,
Krisantus Minggu Kwen, merupakan dosen STP Reinha Larantuka. Kris berbicara
perihal berpastoral berbasis ekologi. Jelas Kris, Gereja Keuskupan Larantuka
juga memiliki perhatian khusus terhadap pelestarian alam. Hal tersebut ditandai
dengan pemilihan tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) tahun 2017, yakni
‘Selamatkan Ibu Bumi’. Beberapa tema APP tahun-tahun sebelumnya juga khusus
berbicara tentang lingkungan.
Lanjut Kris, Gereja
dan umat tak dapat dilepaspisahkan. Gereja adalah umat itu sendiri. Gereja
adalah kita. Karena itu, tegas Kris, sasaran pastoral yang dibuat Gereja harus
menjadi tugas semua umat. Khusus tahun 2017 sebagai tahun ekologi, diharapkan
semua umat memiliki kesadaran dan berpartisipasi dalam upaya menyelamatkan ibu
bumi.
Sedangkan sebagai
sebuah kampus, lanjut Kris, STP Reinha memiliki tugas yang lebih. STP harus
menjadi jembatan akademik, melakukan kritik sosial terhadap kebijakan pemangku
kepentingan yang merugikan, membangun konsep serta menjalankan penelitian-penelitian
sosial. Sebagai dunia kampus juga, STP Reinha harus berkomitmen mengenal,
mengalami langsung masalah ekologi, serta berusaha mengakrabkan masalah ekologi
kepada masyarakat.
STP
Reinha dan Desa Nusadani Bermitra Bersama
Di akhir acara
seminar, diadakan juga penandatanganan kesepakatan kerja sama antara STP Reinha
Larantuka dengan Desa Nusadani. Kerja sama tersebut tidak sebatas pada masalah
ekologi, tetapi juga pada masalah-masalah lain yang dialami warga. Sesuai kerja
sama itu, rencananya, STP Reinha akan kembali berkunjung ke Desa Nusadani pada tahun
2018.
Seminar ekologi
merupakan bagian dari rangkaian kegiatan kunjungan STP Reinha Larantuka.
Kegiatan lain dalam kunjungan tiga hari (18 – 20 Desember 2017) tersebut adalah
pertandingan voli dan bola kaki bersama OMK Nusadani, rekoleksi, doa dan sharing, penanaman
anakan mahoni, serta pembinaan dan sharing
bersama Sekami dan OMK Nusadani. (Afry)



Komentar
Posting Komentar