Minat Baca Rendah
Presiden
Soekarno pernah mengatakan, ia hanya membutuhkan sepuluh pemuda untuk
mengguncangkan dunia. Akan tetapi, apa jadinya jika sepuluh pemuda tersebut
malas membaca? Tentu, dunia yang berbalik menertawakan kita!
Pada
tahun 2016 lalu, hasil studi Most Littered Nation In The World yang dilakukan oleh Central Connecticut State University, menempatkan Indonesia pada
urutan ke-61 dari 62 negara dalam peringkat minat mambaca. Jika Indonesia
dirundung nasib buruk seperti itu, Provinsi NTT biasanya tertular imbasnya
dengan kabar yang lebih buruk lagi. Tak heran, pada awal Desember 2017, muncul
Muhajir Effendy, Mentri Pendidikan dan Kebudayaan kita, membawa pernyataan yang
mengundang polemik. Terhadap kualitas pendidikan Indonesia yang rendah
berdasarkan hasil penelitian Program for International Students Assesement (PISA), Muhajir menilai adanya
kemungkinan PISA menggunakan NTT sebagai sampel penelitiannya. Pernyataan
Muhajir tersebut langsung ditanggapi warga NTT dari mana-mana. Akan tetapi,
selain memprotes Muhajir, ada baiknya kita juga sejenak hening mengaca diri,
misalkan dengan pertanyaan sederhana ini: berapa banyak buku yang sudah kita
baca setiap tahun?
Menurut
United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO), minat baca Indonesia hanya mencapai
0,001 persen pertahun. Hal itu berarti, dari 1000 orang Indonesia, hanya satu
yang rajin membaca. Banyak hal yang menjadi penyebab rendahnya minat baca ini,
salah satunya adalah belum adanya perpustakaan atau taman bacaan terdekat yang
dapat diakses masyarakat. Karena itu, perlu didirikan pusat membaca, seperti
taman bacaan masyarakat (TBM) yang menyediahkan buku-buku bacaan
Dari
hasil pertemuannya dengan pegiat literasi pada Hari Pendidikan Nasional
(2/5/2017) lalu, Presiden Jokowi pun telah memberikan banyak kemudahan. Melalui
Pos Indonesia, Jokowi mengratiskan biaya pengiriman donasi buku-buku bacaan ke
TBM di seluruh Indonesia. Sehari dalam sebulan, yakni setiap tanggal 17, para
donatur dapat mengirimkan paket buku bacaan dengan berat maksimal 10 kilogram
perpaket tanpa ongkos kirim kepada TBM yang sudah terdaftar di PT Pos
Indonesia. Keputusan Jokowi tersebut malah turut mendorong munculnya banyak TBM
baru.
TBM di NTT
Di
Provinsi NTT, TBM pun banyak bermunculan. Pada Oktober 2017, Pos Indonesia
mendata sebanyak 74 TBM di NTT, sedangkan pada November-Desember 2017, jumlah
TBM meningkat menjadi 85 TBM. Sementara di Kabupaten Flores Timur, sejak
Oktober 2017 hingga Desember 2017, Pos Indonesia masih mendata TBM dengan
jumlah yang sama, yakni 9 TBM, dengan rincian, 2 TBM di Adonara, 2 TBM di
Solor, dan 5 TBM di Larantuka dan sekitarnya. Kesembilan TBM tersebut adalah
sebagai berikut.
1.
TBM Lautan Ilmu – Lamahala, Adonara Timur
2.
Taman Baca Onek Mara –
Kolilanang, Adonara
3.
Rumah Baca Amal Lamakera – Lamakera, Solor Timur
4.
TBM Tawa Gere – Nusadani, Solor
Barat
5.
Hutan 46 Waibalun – Waibalun, Larantuka
6.
TBM Imam Belama – Pohon Bao, Larantuka
7.
Serambi Pustaka SimpaSio Institute
– Sarotari, Larantuka
8.
Taman Baca Tosiba – Lamatutu, Tanjung Bunga
9.
TBM Bintang
timur – Konga, Titehena
TBM Tawa Gere
Dari
9 TBM di Flores Timur, terdapat 2 TBM di Pulau Solor. Rumah Baca Amal Lamakera
terletak di Solor Timur, sedangkan TBM Tawa Gere di Solor Barat. Ibu Veni Hobamatan adalah inisiator TBM Tawa Gere. TBM yang beralamat di RT
007/RW 004, Desa Nusadani ini didirikan pada September 2017 lalu. Menggunakan
beranda rumah Ibu Veni yang tidak begitu luas sebagai tempat baca dan didukung
buku-buku bacaan yang masih sangat terbatas, Tawa Gere telah berani untuk bergerak, memaknai apa yang menjadi
namanya sendiri. Tawa Gere diambil
dari bahasa daerah Lamaholot yang dapat diartikan dengan ‘bertumbuh dan
berkembang’.
Meski
terbilang baru, Tawa Gere telah
mendapat banyak peminat, terlebih anak-anak sekolah dasar. Setiap hari Minggu,
mereka ramai berkumpul di beranda, membaca buku atau majalah hasil dari donasi
untuk Tawa Gere. Ibu Veni pun tengah
mempersiapkan pengelolaan yang lebih teratur. Anak-anak Tawa Gere rencananya akan dikumpulkan berdasarkan tingkat
kemampuan, agar dapat lebih mudah dibina, dilatih membaca, berhitung, menulis,
dan bercerita. Terkait kegiatan literasi ini, Tawa Gere akan bekerja sama dengan Pemerintah Desa (Pemdes)
Nusadani, melalui Rumah Pintar Nusadani yang merupakan perpustakaan desa.
Pemdes Nusadani sendiri sangat mendukung inisiatif pengelola TBM Tawa Gere karena sangat sejalan dengan
program Generasi Sehat dan Cerdas (GSC) di tingkat desa.
Dicari, Inisiator
Terlepas
dari TBM yang belum terdaftar, jumlah TBM baik pada tingkat Provinsi NTT maupun
Kabupaten Flores Timur berdasarkan data dari Pos Indonesia di atas, tentu masih
jauh dari harapan. Jumlah tersebut tentu kalah dengan besaran jumlah penduduk.
Dengan berbagai kemudahan dari pihak pemerintah, dalam hal pengiriman buku
gratis ke TBM setiap tanggal 17, diharapkan paling kurang setiap desa memiliki
satu TBM untuk mempermudah akses masyarakat kepada buku-buku bacaan.
Di
titik inilah, dibutuhkan inisiator. Inisiator (KBBI V) berarti (orang) yang
mempunyai inisiatif, yang mempunyai prakarsa, yang memprakarsai. Berhadapan
dengan kondisi miris tentang rendahnya minat baca bangsa kita, kemudian turut
dimudahkan dengan kebijakan pemerintah, sudah saatnya muncul
inisiator-inisiator di bidang literasi yang siap membentuk TBM di desa-desa.
Biasanya, seperti tercatat dalam sejarah bangsa kita, kaum yang selalu
mempunyai inisiatif paling tinggi dalam revolusi adalah kaum muda. Berhadapan
dengan berbagai ketimpangan dalam masyarakat, khususnya ketimpangan literasi
ini, kaum muda seharusnya berada pada garda paling depan untuk melahirkan
perubahan.**
Komentar
Posting Komentar